My Idol -- Hime Chan

Go down

My Idol -- Hime Chan

Post by Hime Chan on Sun Jul 27, 2008 1:56 pm

Cast :
Hime
Teppei Koike
Eiji Wentz
Kamenashi Kazuya
Erika Sawajiri
Hiroshi Abe

Hime memutuskan meninggalkan Osaka untuk bekerja di Tokyo begitu dia lulus kuliah. Hari Minggu dihabiskannya membereskan kamar, mengepak barang, melepas poster-poster WaT, dan big poster Eiji Wentz dengan hati-hati. Ketika tidak sengaja poster tersobek, “TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!” teriakan histeris bergema yang dipikir oleh kamenashi, kakaknya, Hime baru melihat pembunuh atau maling atau apalaah...

“Ada apa? Ada apa?” Kame panik.
“TIDAAAKK!!!” Hime terus berteriak histeris meratapi poster kesayangannya.
“Himeko, ada apa??”
“PosterQ sobeeeekkk!!!!!!!!!! Poster Eiji!!!!”
“…….” Kame terdiam.
“Huuuuu….” Hime melanjutkan tangisannya meratapi poster kesayangannya.
“Teriaklah sekali lagi, akan aku bantu untuk merobek poster yang lainnya”, jawab Kame sambil berlalu.

“Kenapa harus Tokyo, sih? Sekedar pekerjaan di Osaka juga ada kan??” kata Kame dengan pandangan kesal. “Karena di Tokyo pekerjaannya lebih bagus”. “Kamu hanya ingin bisa datang ke konser cowok itu kan? Makanya kamu pindah ke sana. Aku juga mau ikut pindah!” Kame mengeluarkan egonya. Melihat tingkah kakaknya yang mengidap sister-complex entah stadium berapa itu, membuat Hime kesal dan menjawab dengan nada tinggi, “ Kakak kenapa, sih?? Aku ukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa. Aku ke sana untuk bekerja. Kakak juga sudah menjadi guru di sini, masa kakak mau meninggalkan murid-murid kakak?” Namun Kame hanya diam seolah tidak mendengar apa-apa.

“Sudah, pembicaraan selesai! Aku mau tidur. Besok aku harus bangun jam 5 pagi untuk benar-benar siap. Berangkat dengan kereta, sampai di okyo segera mencari penginapan, jam 3 wawancara kerja”, Hime mebaca jadwalnya untuk besok. Kemudian dia pergi menuju kamarnya, memasang alarm, mematikan lampu, kemudian tdur. Kame berdiri jengkel di depan kamar Hime, kemudian menendang pintu kamar, dan berlari ke kamarnya sebelum Hime sempat keluar menghajar kakaknya.

Esoknya, Hime terbangun jam 9 pagi. 30 detik kemudian dia tersadar dan segera berteriak, “KAKAAAKKK!!!!!!!!!” Hime berlari ke ruang makan dan mendapati kakaknya sedang menyantap sarapannya dengan wajah polos tak berdosa. “Ya? Ada apa?” katanya sambil melahap roti panggang kejunya. “GGGGRRRRRRHHHHHHHHHH……!!!!!!!!!!!!”, tak dapat berkata apa-apa, Hime segera bersiap-siap dan berlari ke stasiun. Sementara Kame mengikutinya dari belakang dengan naik sepeda motor.

Ternyata, karena suatu masalah, kereta ke Tokyo baru akan datang jam 12. Hime hanya bisa menunggu. Tiba-tiba Kame datang menyodorkan sarapannya dan sebotol susu dingin. “Makanlah. Kamu belum sarapan tapi malah lari pagi sampai ke stasiun”

“Kau…!!! Kau…!!! Ini semua kerjaanmu kan???!!!”
“Huh? Kenapa menyalahkan aku? Ini kan salahmu terlambat bangun. Mungkin ini pertanda supaya kamu tidak pergi ke Tokyo”, Kame nyengir.
“Kau…!! Kau…!! Mematikan jam bekerku, sengaja membiarkan aku bangun terlambat, menyiapkan 4 potong roti bakar untuk sarapan agar waktuku habis untuk sarapan, dan… dan…” Hime melihat Kame dari atas sampai ke bawah, “… kau membiarkan aku berlari ke stasiun, sedangkan kau naik motor ke sini!! Kauu…” wajahnya memerah, menahan air mata yang hendak tumpah saking kesalnya. Nafasnya terengah-engah, siap berteriak sekeras-kerasnya.
“Hei, itu salahmu sendiri. Jangan menyalahkan orang lan. Mungkin saja kamu tidak sengaja mematikannya”, bela Kame.
“Oh ya? Kamu pikir ke mana jam bekerku pada saat aku berencana melanjutkan SMA di Tokyo???”
“Jam itu kan sudah tua”
“Ya, dan dia juga sangat hebat, bisa berjalan ke kamarmu dan berdering di sana!!” air matanya mulai jatuh, dia menahan nafas.
“Itu kan sudah lama. Kenapa sih kamu suka sekali mengungkit yang…” Kame melihat ke arah Hime.

Hime sudah seperti akan meledak.
“Hei,, kamu menangis?? Himeko, jangan menangis!!!”
Setelah bersusah payah menenangkan Hime, Hime akhirnya menurut untuk duduk dan memakan sarapannya. Begitu jam 12, kereta yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Tiba-tiba, “Kepada semua penumpang kereta menuju Tokyo, kerena akan datang terlambat karena adanya sedikit gangguan. Maaf atas kejadian ini”, sebuah pengumuman yang membuat Hime berdiri kaku. “Paling hanya 30 menit. Duduklah”, kata Kame menenangkan adiknya.

Namun, sampai jam 12.30, kereta tidak juga datang. Hime mungkin satu-satunya yang berjalan mondar-mandir sambil menahan tangis di antara semua orang di stasiun itu. Jam 12.40 kereta datang, Hime segera masuk dan berbalik badan, “Jangan ikuti aku!!” katanya ketus pada kakaknya.

Sesampainya di Tokyo sudah jam 14.28. Hime berlari dan menabrak banyak orang. Di depan stasiun dia menabrak seorang cowok. “Wah, cute banget mukanya”,Hime menatap cowok itu terus sementara cowok itu mengambilkan semua barang-barang Hime yang jatuh berhamburan dan menyerahkannya, “Kalau jalan tuh liahat-lihat!! Dasar cewek bego!!”
“Apa?”
“Kamu itu bikin repot orang, sudah nabrak, biarin orang mungut semua barangmu, kamu sendiri malah bengong. Kamu itu bodoh atau apa, sih?” cowok itu pergi berlalu.
“Apa? Cewek bego? Aku??” Hime baru menyadari kata2 cowok itu. Dan sadar dia sudah membuang banyak waktunya. “Orang-orang Tokyo tidak ramah. Menyebalkan sekali!” gerutunya.

Hime tiba di tempat wawancara jam 16.50. Gilirannya sudah lama terlewat dan dia tidak diizinkan mengikuti wawancara. Wawancara pun selesai. Hime hanya duduk bengong meratapi harinya yang kacau balau. 3 orang pewawancara pun keluar. Salah satu dari mereka melihat Hime dan menghampirinya, “Nona Kazuya?”
“Ah, iya.”
“Terlambat ya?”
“Iya, maaf. Tadi keretanya terlambat datang.”
Salah seorang pewawancaranya adalah wanita berumur sekitar 40-an dengan wajah judesnya, mendengus, “Alasan!! Ayo, biarkan dia.”
“Tunggu,” kata laki-laki itu. “Aku ingin tau alasannya.”
“Ah, kakakku tidak mau aku pergi, jadi dia membuatku bangun terlambat, dan kereta ke Tokyo mengalami masalah, sehingga terlambat.”
“Apa ini? Apa ini berisi baju?” tanya wanita itu lagi.
“Iya, aku tidak sempat mencari penginapan.”
“Namaku Abe Hiroshi. Dia Aya Nazuma, dan ini Tomoya Hiragi. Kau mau ikut kami makan malam?”
Wanita itu melotot tidak percaya pada apa yang dilakukan Hiroshi.

Di restoran mewah itu, mereka memsan banyak makanan mahal. Hime berbisik pada Abe Hiroshi, manajer perusahaannya, “Pak, saya tidak bawa uang cukup”. “Aku yang akan bayar semua. Nah, bisa kita mulai wawancaranya?”, “Apa? Wawancara? Dia terlambat yang berart dia didiskualifikasi”, Nazuma tampak sangat tidak suka dengan Hime. Namun Hiroshi tidak memperdulikannya dan tetap mewawancarainya.

Begitu pulang, Hiroshi mengantarkan Hime ke peninapan bergaya Jepang. “Pukul 7 tepat, besok pagi. Jangan terlambat.”
“Baik. Terima kasih sudah menerimaku”.
Nazuma hanya memandang kesal dan pulang.
“Abaikan dia. Dia selalu begitu”, kata Hiroshi.

Hime pun segera beristirahat di penginapan itu. Esok paginya, subuh, saat langit masih gelap, Hime sudah bangun dan pergi ke supermarket 24 jam dekat penginapannya. Dia memilih sandwich untuk sarapannya. Tiba-tiba dia menabrak seorang laki-laki lagi. “Aduh, berapa orang lagi sih yang harus aku tabrak?? Dia pasti mau marah-marah dan mengata-ngataiku lagi!” pikir Hime dalam hati.

Tapi ternyata cowok itu malah minta maaf, “Maaf, ya. Aku tidak lihat tadi”.
“Iya, sama-sama. Aku juga kikuk. Maaf. Eh…???” Hime menyadari sesuatu.
“Ya?”
“Kau…, Teppei Koike???” Hime hendak berteriak melihat partner idolanya.
“Ssssttttt…….!!!!!!!! Sssssssstttttttt……!!!!!!!!! Tolong jangan berteriak!!!!” Teppei membungkam mulut Hime. Hime mengangguk. Mereka kemudian keluar.

“Kau Teppei kan? Partner Eiji??”
Ya”.
“Ajak aku bertemu Eiji, dong!!”
“Apa?”
“Boleh kan? Bisa kan?”
Tiba-tiba ada 2 orang cewek remaja yang kebetulan lewat. Mereka kemudian berbisik-bisik sambil menunjuk Teppei.
“Gawat!!” tanpa sadar Teppei menarik Hime masuk ke mobil dan membawa ke suatu rumah di mana Eiji menyambut dengan bingung. Hime terus menatap Eiji.
“Eh,,, kami harus ke studio rekaman. Maaf, tapi bisakah kau pulang? Tanya Eiji.
“Pulang? Oh… tapi… Eh??” Hime melihat jam tangannya. “Ya ampun!! Sdah jam 7 kurang! Ini hari pertamaku kerja!!” teriak Hime.
“Kami akan antar”, kata Teppei.

Hime tiba di kantor jam 7 lewat. Teppei membantu menjelaskan permasalahan pada bosnya. Hime pun diizinkan untuk bekerja har itu. Teppei kembali ke mobil.
“Kenapa harus mengantarnya, sih?Sekarang kita yang terlambat”.
“Tapi aku yang membuatnya terlambat ke kantor”.
“Lagipula siapa sih dia? Kenapa jugakamu datang dari supermarket justru malah bawa dia, bukannya bawa makanan untuk sarapan”.
“Apa boleh buat…”
Mereka lalu pergi.

Sebelum pulang dari kantor, Hiroshi menahan Hime, “Nona Kazuya, aku harap anda tidak lagi datang terlambat esok hari. Begini saja, bisa aku meminta alamat mail anda?”
“Alamat mail?”
“Jangan salah paham. Ini hanya untk mengingatkan anda untuk datang ke kantor tepat waktu” Hiroshi mengeluarkan ponselnya.
“Tapi aku tidak punya alamat mail. Aku tinggal berdua dengan kakakku. Kakakku yang membiayai aku selama ini. Aku tidak bisa egois meminta barang mahal seperti itu”.
“Begitu…”, Hiroshi menyimpan ponselnya. “Baiklah, kalau begitu usahakan besok anda tidak terlambat lagi”.

Begitu pulang dari kantor, Hime berjalan mencari rumah tempat dia tadi pagi bertemu Eiji. Tapi, memang pada dasarnya jago nyasar, sampai malam pun rumah yang dicari tidak ketemu. Dia pulang ke peninapan, dan ingat kalau dia belum menghubungi kakaknya.

“Ini sudah hari ke dua! Dan kamu baru menghubungiku???” teriak Kame di telepon.
“ Apa boleh buat! Ini semua juga salahmu. Aku baru dapat penginapan kemarin malam!”
“Kamu menelepon dari penginapan? Berapa nomor teleponnya? Alamatnya?”
Hime memberikan nomor telepon dan alamat penginapannya. Kemudian menutup telepon dan pergi tidur.

Esoknya, subuh hari Hime pergi ke supermarket 24 jam lagi dengan harapan dapat bertemu Teppei lagi da memaksanya untuk membawanya ke tempat Eiji. Tapi orang yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang, dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi bekerja. Tapi pulannya dia mencoba mengingat-ingat jalan ke rumah Teppei. Dia terus mencari setiap pulang kantor dan menunggu di supermarket setiap akan berangkat kerja. Tapi sampai 5 hari, usahanya tidak berbuah hasil.

Sesampainya di penginapan, kakaknya menelepon.
“5 hari kamu sama sekali tidak menghubungiku! Apa sih yang kamu kerjakan??”
“Aku sibuk bekerja” jawab Hime malas.
“Sepertinya sudah saatnya kamu punya ponsel. Jadi aku bisa menghubungimu kapan saja”.
“Hah? Ponsel? Tunggu aku gajian 5 bulan dulu!”

Esoknya Hime menunggu lagi di supermarket. Tapi dia tetap tidak bertemu Teppei. Di kantor, dia harus lembur sehingga pulang larut. Dia memutuskan untuk tidak mencari rumah itu untuk mala mini. Pulang dari kantor, dia melihat seorang cowok yang sedang dikerubuti 5 cewek SMA. Hime mengenalnya sebagai Teppei. Berarti Teppei sedang disergap para fans.

“Kamu Teppei kan??” tanya salah seorang cewek itu.
“Kenapa sih daritadi tidak mau mengaku?” lanjut cewek yang lain.
“Bukan, bukan. Salah orang”, Teppei berusaha mengelak.
“Jangan pakai kacamatanya terus dong, kan sudah malam”, paksa seorang cewek sambil melepas kacamata yang dipakai Teppei.

“Yuu!!!” teriak Hime tanpa pikir panjang. Hime merangkul tangan Teppei dan menyeretnya keluar dari gerombolan cewek itu. “Sudah lama ya?? Maaf, aku membuatmu menunggu. Ayo pergi”.
“Tunggu, siapa kamu?” tanya salah seorang cewek.
“Aku? Aku pacarnya. Dia Yuu, pacarku. Kenapa kalian mengerubutinya?”
“Yuu?” tanya cewek itu lagi.
Hime dan Teppei berlari menjauh dari cewek-cewek yang keheranan itu.

“Terima kasih” kata Teppei.
“Sama-sama. Aku pikir kamu tidak ke sini lagi?”
“Oh, besok aku harus berangkat pagi hari. Jadi mau menyiapkan makanan untuk besok”.
“Begitu…”
“Kau ingin aku mempertemukan aku pada Eichan lagi?”
“Iya, kalau tidak keberatan. Karena aku sudah berhari-hari menunggumu di supermarket itu”.
Akhirnya mereka menuju ke rumah itu.
Di perjalanan mereka berbincang-bincang ria, “Kamu suka Eichan?” tanya Teppei.
“Tentu aja!!” jawab Hime semangat.
“Dan aku? Maksudku, kami sama-sama WaT”.
“Oh? Tentu, tentu aku juga suka Teppei. Tapi aku lebih suka sama Eiji”.
“Begitu…” jawab Teppei.
“Ya, kau tau kan, walaupun kalian sama-sama dari WaT, pasti oran-orang sering membanding-bandingkan kalian dan memilih siapa yang lebih disukai. Dan buatku, yang paling aku sukai adalah Eiji”, jawab Hime tersenyum.
Teppei hanya diam, dan terus mengemudi. Sampailah mereka di rumah Teppei. Di sana ada Eiji. Mereka pun berbincang-bincang.

“Minggu depan aku ulang tahun” kata Hime tiba-tiba.
“Benarkah?” tanya Eiji.
“Ya, ulang tahun ke 22”
“Kalau begitu, apakah kamu akan merayakannya?” tanya Teppei yang disusul pertanyaan Eiji, “Di mana kamu akan merayakannya?”
“Aku tidak tahu di mana, karena aku belum terlalu tau tempat di Tokyo ini” jawabnya sambil mamandang ke Eiji, tanpa memperdulikan Teppei.
Begitu terus sampai pulang, Hime hanya memperhatikan Eiji, tidak memperhatikan Teppei sama sekali.



To be continued...
avatar
Hime Chan
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 339
Age : 26
Indonesia : Kalimantan Timur
Registration date : 2008-03-21

View user profile http://www.friendster.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by ichijo on Sun Jul 27, 2008 1:59 pm

Hime,
boleh usul gak??
fanfic nya pake bhs inggris aja gimana?

lebih sreg bacanya...
hehehe ^^

itu kalo u gak kbrtn sich... =)
avatar
ichijo
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 263
Age : 26
Indonesia : West Java
Registration date : 2008-04-11

View user profile http://www.friendster.com/chizurugreenmaniac

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Hime Chan on Sun Jul 27, 2008 2:03 pm

Pake English?
Boleh, monggo kerso...
tapi aku gag trll jago pake english. Qlo baca english c gag masalah.
Hehehehhee...
Jadi untuk fanficQ yx nie pake Indo dulu iah...
Selanjutx insyaALLAH pake English. Qlo maw buat fanfic, buat newtopic aja lagi, biar gag nyampur2 gtuu. ^^
avatar
Hime Chan
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 339
Age : 26
Indonesia : Kalimantan Timur
Registration date : 2008-03-21

View user profile http://www.friendster.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by ichijo on Tue Jul 29, 2008 9:37 pm

sip, sip
udah tuu...
hahaha ^^

fanfic ga jelas buatanku.. =P
mohon maaf bila banyak kesalahan bahasa yaa... xD
avatar
ichijo
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 263
Age : 26
Indonesia : West Java
Registration date : 2008-04-11

View user profile http://www.friendster.com/chizurugreenmaniac

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Hime Chan on Tue Aug 12, 2008 5:57 pm

Minna, mav blum bisa dilanjutkan, terhalang oleh sibukx skula,, karna uda kelas 3... >O<
avatar
Hime Chan
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 339
Age : 26
Indonesia : Kalimantan Timur
Registration date : 2008-03-21

View user profile http://www.friendster.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Admin on Tue Aug 26, 2008 6:47 pm

Bagus.. uhuhu.. tp jd jeles teppeinya kyk naksir hime deh *lirik2 hime*

_________________
MILIS TEPPEI: http://groups.yahoo.com/group/indo_koiketeppei/

[/URL]
Visit my FrienDSteR: http://www.friendster.com/nellykoike
avatar
Admin
Admin
Admin

Female Number of posts : 233
Age : 32
Registration date : 2007-11-20

View user profile http://indo-koiketeppei.forumotion.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Hime Chan on Wed Aug 27, 2008 11:15 am

Bentar duunn,,,
Lagi diterusin nii ceritax. Wkwkwkwkwk!!!!!!!
avatar
Hime Chan
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 339
Age : 26
Indonesia : Kalimantan Timur
Registration date : 2008-03-21

View user profile http://www.friendster.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Hime Chan on Fri Sep 19, 2008 2:16 pm

PART 2

Esoknya Hime ke Supermarket lagi. Dan di sana Teppei sudah menunggu.
“Happy Birthday…”, kata Tepei sambil tersenyum, menyerahkan sekotak hadah.
“Eh,, wah,, terima kasih…” Hime menerimanya sambil tersenyum malu. “Mimpi apa aku semalam, dikasih hadiah ulang tahun sama artis sekeren ini??” pikirnya dalam hati.
Mereka terdiam sejenak.
“Eh,, emm,,, Eiji…” kata Hime sambil mencari-cari sosok Eiji.
“Ei-Chan hari ini ada perlu. Pagi-pagi tadi dia sudah berangkat, aku sendiri nggak tahu dia ke mana”
“Ooohh,,,…” Hime merasa kecewa. Dia sudah berharap Eiji akan datang menungunya di supermarket itu saat hari ulang tahunnya.
“Mungkin dia sedang mencari hadiah untukmu, Kazuya”, hibur Teppei melihat Hime yang murung kecewa.
“Eh??? Benarkah??” Hime tersenyum girang.
“Mungkin…”
“Mmm,, hari ini aku boleh ke sana lagi nggak?”
“Ya, boleh”
Mereka pun pergi ke rumah itu lagi.

“Kamu belum hafal jalan ke sana?” tanya Teppei.
“Yaaaahhh,, belum sih sebenarnya…”
Teppei tersenyum, “Bukannya kamu sudah 2 kali ke sana?”
Wajah Hime memerah malu, “Huuh,, ingatanku tentang jalan buruk sekali. Aku jarang keluar rumah. Makanya aku sering nyasar, dan aku ini tertutup sekali”.
Akhirnya mereka tiba di rumah itu. Tapi Eiji sama sekali nggak ada di rumah. Hime merasa kecewa sekali lagi. Wajahnya kembali murung. “Eiji… Belum pulang siiihh???”
“Mungkin dia sekarang masih bingung berkeliling mencari hadiah buatmu?” hibur Teppei sekali lagi.
“Hmm,, yaahh… Mungkin saja…” jawab Hime lemas.

Hime menghembuskan nafas sambil melihat jam di dinding. Sudah 2 jam mereka menunggu Eiji, tapi Eiji nggak kunjung pulang. “Kita jalan-jalan, yuk” ajak Teppei tiba-tiba.
“Kemana?” tanya Hime agak kurang semangat.
“Kemana sajalah. Ini kan hari ulang tahunmu”.
“Oooh,, Ok”.

Mereka pergi jalan-jalan. Ke tama ria, ke restoran sushi, dan ke berbagai tempat. Rasanya menyenangkan sekali. Semua orang melihat ke arah mereka sepanjang hari. Hime jadi merasa agak sombong di depan cewek-cewek yang hendak memotret Teppei.

“Rasanya kayak mimpi ya, hari ulang tahunku aku diajak jalan-jalan dengan seorang artis pujaan. Hahahha…” kata Hime senang.
“Benarkah? Kamu senan?”
“Ya, aku senang sekali. Rasanya aku ingin tertawa sekeras-kerasnya melihat gadis-gadis itu melihat sirik padaku. Kita seperti sedang berkencan saja” jawabnya sambil tertawa. Teppei pun tersenyum melihatnya. Dan saat itu Hime merasa seperti tidak pernah tahu Teppei. Dia sering melihat Teppei di berbagai majalah berfoto berua dengan Eiji. Tersenyum manis dengan sangat keren. Tapi Teppei yang berdiri di depannya tersenyum berbeda dengan yang pernah dia lihat selama ini. Sesaat Hime merasa sangat terhanyut. Dan tiba-tiba suasana itu terpecah dengan deringan handphone di saku Teppei. Teppei membaca pesan dan kemudian berwajah agak murung.

“Kenapa?” tanya Hime khawatir.
“Bukan apa-apa. Aku…”
“Kamu ada kerjaan ya?”
“Eh? Enggak, kok. Bukan,”
“Jadi?”

“Nona Kazuya?” tiba-tiba ada suara lain memanggil Hime.
Mereka merdua menoleh ke asal suara yang ternyata adalah suara Abe Hiroshi, bosnya di kantor.
“Selamat sore,” sapa Hiroshi dengan tersenyum, kemudian melihat ke arah Teppei. “Sedang berkencan?” tanya Hiroshi.
“Oh, tidak. Kami sedang berjalan-jalan. Hari ini saya berulang tahun, dan dia menemani saya berjalan-jalan”, jawab Hime.
“Kau ulang tahun?” tanya Hiroshi.
“Ya”
“Selamat kalau begitu. Aku tidak bawa apa-apa untuk kadomu. Maaf ya.”
“Tidak, tidak apa-apa,” Hime merasa sedkit tersanjung.
“Hmm,, begini saja. Kenalanku memiliki bisnis ponsel. Bagaimana kalau kalian ke sana, pilihlah salah satu, anggap hadiah dariku. Bilang atas nama Hiroshi,” Hiroshi tersenyum.
“Eh? Ponsel? Apa itu memotong gajiku?”
Hiroshi tersenyum, “Tidak, tenang saja, aku tidak akan menjebak untuk memotong gajimu. Nah ini alamatnya”.

Mereka berdua pergi ke alamat yang diberikan. Dan memilih ponsel yang Hime inginkan.
“Kenalan Hiroshi, ya? Kalau begitu saya beri diskon 80% bagaimana?” kata pegawai toko.
“Hah? 80%??” Hime terkejut mendengar tawaran itu. Ponsel yang sangat diidam-idamkannya bisa didapatkannya dengan harga semurah itu.
“Jangan. Aku yang bayar,” kata Teppei menahan Hime yang sudah mengeluarkan dompetnya.
Akhirnya Teppei yang membayar.

“Tapi kan kamu sudah member aku hadiah?”
“Itu kan Cuma hadiah kecil. Murah, aku juga memilihnya buru-buru”.
Hime membuka kotak pemberian Teppei. Isinya gelang manik-manik yang bagus banget. “Terima kasih, ya. Aku suka banget…”

Dan tiba-tiba langit mendung, mereka pun memutuskan pulang. Saat di perjalanan pulang, Hime melihat Eiji sedang berada di sebuah restoran mewah dengan seorang gadis cantik. “Itu Eiji??” tanyanya tiba-tiba.
“Apa mereka sedang berkencan?” Hime memandang kea rah restoran itu.
“Emm,, bukan” jawab Teppei.
Hime kemudian melihat kamera di sekitar mereka. “Dia sedang syuting?”
“Eh,, emm,, yaahh,,, begitulah…” jawab Teppei semakin tidak enak hati.
“Tapi... Aku pikir dia mau merayakan ulang tahunku bersama?” Hime melihat kea rah Teppei. “Kau tahu ini?” tanya Hime.
“Hah?”
“Kau tahu dia nggak akan datang?”
Teppei hanya diam. Suasana terasa sangat canggung.

“Hime!!” teriak seseorang ememcahkan suasana tidak mengenakan itu.
“KAKAK???” pekik Hime terkejut melihat si sister complex datang.
“Selamat ulang tahun…” Kame melirik ke arah Teppei dengan wajah tidak suka.
“Hime Chan…” sapa Erika, pacar Kame.
“Erika!!! Wah, sudah lama ya”, Hime merasa girang melihat pacar kakaknya yang sudah dianggap kakak perempuannya sendiri itu.
“Hei, hei… Apa-apaan ini? Kenapa kamu bersama cowok ini, hah??” kata Kame sambil memandang Teppei. Kame kemudian melihat bungkusan yang dibawa Hime.
“Ponsel? Kamu beli ponsel?” tanya Kame.
“Ah, itu dibelikan Teppei,” jawab Hime.
Sekejap wajah Kame memerah padam, merasa sangat marah. “Aku membelikan ponsel untukmu! Aku dan Erika datang jauh-jauh ke sini untuk merayakan ulang tahunmu. Tapi begitu tiba di penginapanmu kamu tidak ada, dan sekarang aku menemukanmu sedang berkencan dengan cowok sial ini!” bentak Kame.
“Kame! Jangan begitu. Hime-Chan sudah bukan anak kecil lagi!” kata Erika marah melihat sikap Kame kepada Hime dan Teppei.
“Maaf, kalau begitu aku pulang saja ya, Kazuya” kata Teppei.
“Eh?”
“Kakakmu sudah jauh-jauh datang ke sini. Aku jadi mengganggu. Maaf ya. Aku pulang duluan”
“Kenapa? Ikut saja dengan kami,” kata Erika.
“Tidak, tidak usah. Selamat ulang tahun ya, Kazuya,” Teppei meninggalkan mereka.
“Eh, iya…” jawab Hime sambil memperhatikan Teppei yang pergi.

Esok harinya kakaknya dan Erika pulang ke Osaka. Pagi-pagi Hime menunggu Teppei di Supermarket lagi. Tapi Teppei nggak kunjung muncul seperti saat hari ulang tahunnya. Begitu pula saat pulang kerja.
“Rasanya percuma aku beli ponsel ini. Aku nggak bisa menghubungi mereka berdua…,” pikir Hime.
Selama satu minggu Hime menunggu Teppei di Supermarket itu, sebelum dan sesudah berangkat kerja. Tapi Teppei nggak kunjung mncul.
“Apa dia sakit hati gara-gara kakak, ya? Aku mana bisa menunggu terus untuk minta maaf padanya. Apa aku sebaiknya ke rumah itu? Tapi aku kan nggak hafal jalannya”
Setelah berpikir lama, Hime memutuskan nekat pergi ke rumah itu sendirian, dengan bermodal sedikit ingatan tentang jalan ke rumah itu.

Tapi 3 jam berjalan untuk mencari rumah itu bukan hal yang mudah baginya. Ingatannya tentang jalan sangat buruk. “Apa aku kesasar ya?” Langit sekali lagi mendung dan hujan pun turun deras. Hime berteduh di suatu café kecil. Hujan bukannya berhenti, malah bertambah deras. Sudah pukul 5 sore, jalan pulangpun Hime tidak tahu, sehingga dia memutuskan untuk tetap mencari rumah itu sambil menerobos hujan. Tapi Hime hanya berjalan berputar-putar. Dia pun menangis saat berteduh untuk beristirahat.

“Kazuya?”
Hime menoleh dan melihat Eiji menghampirinya. “Eiji??” Hime terkejut.
“Sedang apa?”
“Aku kesasar mencari rumahmu”
“Oh,, sudah dekat, kok. Mau ikut? Kamu basah kuyup banget,” ajak Eiji.

Sesampainya di depan rumah Teppei juga datang.
“Kazuya?” Teppei terheran melihat Hime.
“Teppei…” Hime menahan air matanya yang entah mengapa serasa akan jatuh begitu melihat sosok Teppei di depannya.
“Kenapa kamu? Kamu basah kuyup banget,” kata Teppei sambil melihat Hime yang basah kuyup.
“Aku tadi bertemu dengannya di halte sana. Katanya dia tadi kesasar mencari rumah ini,” jawab Eiji.
“Kamu belum hafal rumah ini?” tanya Teppei agak geli.
“Huh, aku kan sudah bilang, aku susah banget ngehafalin jalan!”
“Kenapa tidak tanya orang?” sambung Eiji.
“Dia tidak terbiasa bertanya pada orang lain. Dia tertutup, makanya sering nyasar kalau lagi jalan” jawab Teppei sebelum Hime mejawab.

Eiji terdiammendengar Teppei. Memandang aneh. Dan kemudian member isyarat untuk mengikutinya sebentar untuk berbicara di dapur. “Kalian pacaran?” tanya Eiji.
“Hah? Tidak” jawab Teppei.
“Benar kalian kemarin pergi berkencan berdua?”
“Itu bukan kencan. Aku cuma menemaninya saat hari ulang tahun… Hei, kamu tahu dari mana?”
“Wartawan” jawab Eiji singkat.
“Apa?”
“Wartawan. Ada wartawan yang melihat kalian. Berita itu langsung menyebar dalam sehari. Kalau memang hanya jalan-jalan kenapa tidak menutup identitasmu? Kau bisa kena masalah” kata Eiji.
“Tapi dia menunggumu. Kamu nggak kunjungdatang, padahal dia berharap bisa merayakan hari ulang tahunnya denganmu. Tapi kamu malah sibuk bekerja,” balas Teppei.
“Kenapa dia ngotot sekali ingin aku ikut merayakannya?” suara Eiji meninggi.
“Karena dia menyukaimu” suara Teppei pun ikut meninggi.
“Dia hanya ngefans sama aku”
“Oh ya? Mungkin memang sebaiknya begitu. Dia seperti mau menangis melihatmu di restoran itu!”
“Jangan melebih-lebihkan. Wajar kalau aku sibuk”.
“Kau!!!” Teppei mendorong Eiji.
“Ada apa?” Hime masuk ke dapur. “Suara kalian keras sekali, aku pikir ada apa”.
Teppei pergi meninggalkan tempat itu, mengambil kunci mobil, dan kemudian pergi.

“Ada apa, sih?” tanya Hime penasaran.
“Aku juga tidak mengerti. Tapi ada baiknya kamu menjaga jarak darinya” jawab Eiji melihat kea rah luar.
“Hah? Menjauhinya? Kenapa?”
Eiji hanya diam, kemudian duduk. Sedangkan HIme merasa ada yang tidak beres, tapi tidak berani berkutat apapun. Baru kali itu ia melihat wajah Teppei seperti marah Manahan sesuatu.

Esoknya sepulang kantor kakaknya menelepon.
“Hime, apa-apaan ini?” suara kakaknya berteriak di telepon.
“Apanya?”
“Waktu itu kau sungguh-sungguh pacaran dengannya?”
“Hah?? Siapa?”
“Yan di hari ulang tahunmu itu! Benar ada cinta segitiga?”
“HAH??”
“Jawab!”
“Cinta segitiga apa, sih???”
“DI majalah hari ini ada artikel, ‘aktor sekaligus penyanyi teppei koike bertengkar dengan partnernya karena seorang wanita’. APA-APAAN INI!!! Kau ke sana untuk kerja kan???”
Hime menutup telepon.

“Hah? Wartawan zaman sekarang benar-benar mau ikut campur aja, deh!!! Kok mereka sampai tahu Teppei bertengkar?? Apa mereka mengikutiku ya??” pikir Hime gelisah.
Esoknya Hime mencoba pergi ke rumah Eiji sendirian, tapi karena jauh dan jalannya berbelok ke kanan dank e kiri, tanjakan, turunan, ditambah memori mengingat jalan yang terbatas, Hime selalu kesasar tiap mencoba pergi ke rumah itu.
Hime hanya bisa berharap Teppei ada di supermarket itu menjemputnya seperti saat hari ulang tahunnya. Tetapi satu bulan menunggu, Teppei sama sekali nggak pernah datang ke supermarket itu lagi. Ini membuat Hime mau nggak mau nekat mencoba mencari rumah itu sendirian. Berkali-kali kesasar. Tapi rumah Eiji nggak kunjung ketemu juga.

Rasanya Hime sudah merasa putus asa mencari rumah tersebut. Tapi dia ingin sekali bertemu Teppei, terutama untuk meminta maaf, karena dia merasa permasalahan mereka disebabkan oleh Hime. Ia pulang kehujanan sehabis mencari rumahEiji. Rasa kesal pun menyelimuti Rasanya dia ingin menangis.

“Tuliluliluliluliluut…” hape Hime berbunyi.
“Ya?” suara Hime lemas.
“Hime-Chan? Ini Erika.
“Oh, hai…” suaranya masih lemas.
“Kamu baik-baik saja? Sebulan ini nggak ada kabarnya. Kame sudah uring-uringan. Teleponlah dia”.
“……” Hime hanya terdiam.
“Hime-Chan? Kamu kenapa?”
Hime pun menangis sambil menceritakan permasalahan yang menjadi beban pikirannya.

“Oh, begitu,” kata Erika. “Jadi kamu menaruh perhatian pada Teppei?”
“Mungkin ini cuma sekedar rasa bersalah. Tapi aku nggak tahu kenapa,” Hime terisak.
“Kamu suka sama Teppei?”
“Nggak, aku sukanya sama EIji”.
“Itu kan beda. Maksudku, kamu saying sama Teppei?”
“Eh?”
“Iya, kayaknya dia perhatian sama kamu. Mungkin dia marah ke Eiji memang permasalahannya kamu. Tapi bukan gara-gara kamu” hibur Erika.
“Mmm,, iya, sih…”
“Kalau ketemu dia, ya minta maaf saja” kata Erika.
“Tapi aku sudah nggak pernah ketemu dia lagi. Dia nggak pernah datang ke tempat biasa kita ketemu”.
“Begitu… Ya coba saja ke rumah Eiji”.
“Tapi rumahnya jauh. Aku Cuma pernah tiga kali ke sana. Aku nggak ingat jalannya…”
“Wah, susah ya. Coba ingat-ingat. Siapa tahu bisa ketemu di jalan. Habis ini hubungi kakakmu ya,” pinta Erika.
“Iya, terima kasih, ya, Erika…” Hime menutup telepon.

Hime berpikir untuk mencoba lagi. Ia mengambil jaketnya, dan pergi. Sebelumnya dia mampir ke supermarket itu lagi. Berdiri termenung, beharap Tepei sedang berdiri di sana. Tapi Teppei nggak mungkin di sana lagi. Hime pun pergi mencari rumah itu lagi. Tapi 3 jam berjalan, mencari-cari dalam hujan, rumah yan dicari nggak kunjung ketemu. Dia pun pulang lagi sambil menangis. Di depan penginapannya Teppei berdiri menunggunya. Hime hanya terdiam. Kaget, tidak percaya.

“Akhirnya kamu pulang. 2 jam aku menunggu. Kamu ke mana saja, sih?” keluh Teppei.
Hime hanya diam menunduk, merasakan air matanya jatuh, mengalir deras seperti hujan.
“Aku kemari mau minta maaf. Gara-gara aku kamu ikut jadi berita tidak enak. Ei-Chan juga bilang kamu nggak penah ke sana lagi. Apa kamu marah pada kami?” tanya Teppei.
Namun Hime hanya diam saja.
“Kazuya?”
“Kamu kan tahu aku nggak hafal jalan!!” kata Hime sambil menunduk.
“Hah? Eh,, iya, si. Tapi masa belum hafal?”
Isakan Hime semakin jelas terdengar.
“Hei, kamu menangis?” Teppei melihat ke wajah Hime yang ditunduk.
“Aku menunggu kamu, bodoh!” kata Hime.
“Menunggu? Kenapa? Ah, kamu ingin aku mengantarmu ke rumah Eiji, ya?”
“….”
“Halooo??? Kamu dengar aku?”
“Sebelumnya memang iya, aku menunggumu supaya kamu nganterin aku ke rumah itu. Tapi lama-lama aku ke supermarket itu dengan harapan ketemu sama kamu, aku jadi terus menunggu kamu!!!” kata Hime.Teppei tersenyum-senyum. Hime malu melihat Teppei yang cengar cengir di depannya.

“Huh, padahal kan aku suka sama Eiji,” elak Hime.
“Iya,” jawab Teppei tersenyum.
“Aku kan sebelumnya nggak suka ma kamu,” kata Hime mulai kesal melihat wajah Teppei.
“Iya,”
“Aku lebih ngefans sama Eiji, kok!!”
“Iya,”
“Iiiiihhh!!!!!! Kamu apa-apaan, sih?!! Wajahmu itu…,” gerutu Hime.
“Iya, iya, aku tahu. Kamu suka sama Eiji. Tapi sekarang yang kamu tunggu aku, kan?” senyum di wajah Teppei tampak semakin menjengkelkan bagi Hime.
“Heh, jangan GR!!! Tapi aku tetep mau ketemu Eiji!!”
“Tapi kamu sering ke supermarket itu untuk ketemu aku, kan?” godanya semakin menyebalkan.
“Iya, tapi kan aku…” HIme terdiam melihat wajah Teppei yang seolah-olah menang mengganggunya.
“Ya?”
“Iiiiiiihhh,, sebel!!! Iya, iya!! Aku suka kamu!!” kata Hime.
Teppei hanya tersenyum.
“Ternyata idolaku menyebalkan…” gerutu Hime dengan wajah merah melihat Teppei tersenyum di depannya…



*****
avatar
Hime Chan
Teppei Lover
Teppei Lover

Female Number of posts : 339
Age : 26
Indonesia : Kalimantan Timur
Registration date : 2008-03-21

View user profile http://www.friendster.com

Back to top Go down

Re: My Idol -- Hime Chan

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum